0wo71p5M3MBGMPs3gA9-3U_3V9k Sebuah Harap Sederhana, Namun Sungguh Berharga | http://syahrial-siregar.blogspot.com/

Rabu, 02 Mei 2012

Sebuah Harap Sederhana, Namun Sungguh Berharga


Bismillah…
“Baik.  Nah, sekarang siapa yang mau bertanya?”, tawar saya pada 17 anak-anak yatim piatu itu, sejenak setelah saya memungkas cerita tentang Rosululloh ketika kecil.  Ada sebuah rasa gembira melihat binar indah di mata-mata bocah mungil di hadapan saya ini.   “Ayo, siapa yang mau tanya, acungkan tangan.” Saya pun mencontohkan mengacungkan  tangan kanan saya dengan sangat semangat. Satu, dua, tiga anak mengacungkan tangan sigap.  Disusul yang lainnya.  Sip. Sementara di bagian belakang, beberapa anak laki-laki nampak ramai berebut permen yang dibagikan.  He heh… Tak apalah, namanya juga anak-anak. Saya saja yang sudah se-‘gede’ ini, masih saja suka seperti itu.  Heuheu… J
“Wah, banyak yang mau nanya, nih.”, ucap saya semangat.  “Dari yang paling pertama ngacung, ya..”
“Saya.. Saya.. Sayaaaa..!!! Kak, Rosululloh juga seperti kami, ya?”, tanya seorang anak lelaki berbaju koko putih itu dengan mata berbinar semangat, sembari terus tak menurunkan acungan tangannya. Peci hitamnya nampak kebesaran di kepala pelontosnya itu.
“Maksudnya?”, tanya saya sembari memandang tepat ke arah anak sekitar umur 6 atau 7 tahun itu.
“Tidak punya Ayah dan Ibu?”, lanjutnya dengan nada polos.
“Ih, kan sudah dibilangin sama Kakak tadi.”, protes seorang temannya yang tepat duduk di sampingnya, sembari menyikut.
“Ngga apa-apa, yang penting bertanya.”, lerai saya, lucu sekali melihat kelakuan mereka.
“Kak, seperti apa sih rasanya punya ibu?”, tanya seorang gadis mungil berjilbab biru muda di pinggir saya.
“Pasti enak, ya Kak?”, sambung anak lelaki yang masih berseragam sekolah dasar itu, ikut mendekatkan duduk ke arah saya.  “Temenku aja sering dibuatin bekal makanan sama ibunya kalo ke sekolah.”, lanjutnya.  Kini, saya dikerumuni anak-anak ini.  Mengerumuni saya yang sedang bingung mesti menjawab seperti apa pertanyaan mereka ini.  Mereka yang banyak di antaranya tak tahu sedikit pun sosok ibu semenjak terlahirkan.  Tak pernah merasakan belai kasih dari tangan seorang ibu.  Jangankan dongeng pengantar tidur dari ibunda, sosoknya pun mereka tak tahu.  Duh kawan, tolong bantu saya menjawab semua pertanyaan mereka ini.
*****
“Kak, kapan ke sini lagi?”, tanya gadis mungil yang semenjak awal selalu saja mengikuti saya.  Saya usap kepala yang terbalut jilbab merah muda itu, lembut.  Saya menangkap seberkas binar harap di bening matanya.
“Sering-sering datang, ya Kak..  Denger cerita lagi. “, pinta seorangnya lagi, bocah lelaki yang tadi semangat sekali bercerita akan masuk SD tahun depan itu.  Saya hanya bisa menganggukkan kepala sembari tersenyum.
“Nggak bawa oleh-oleh juga tak apa-apa.”, sahut anak terbesar yang sudah duduk di kelas 3 SD itu.
Sebuah harap yang nampak sederhana, namun berharga bagi mereka.
Saya pandang wajah kalian semua, adik-adikku.  Hahhh…. Ada genang air di pelupuk mata ketika punggung tangan kami dicium adik-adik kecil ini.  Berpamitan, dengan harap suatu saat kelak, kami mampu membantu lebih banyak.  Semoga.  Amin.
*****
sumber:http://tantodikdik.multiply.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

di harapkan komentar para pembaca....

syahrial_siregar@yahoo.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

http:syahrialsiregar.blogspot.com/

http://syahrialdankeluarga.blogspot.com/

syahrial

siregar