0wo71p5M3MBGMPs3gA9-3U_3V9k Pemandangan Ini Jauh Lebih Indah | http://syahrial-siregar.blogspot.com/

Rabu, 02 Mei 2012

Pemandangan Ini Jauh Lebih Indah

 Bismillah…

Usianya paling hanya terpaut dua atau tiga tahun di atas saya.  Perawakannya kurus dengan raut wajah yang segar melengkapi pagi.  Saya yang baru saja duduk di kursi paling belakang bis Budiman itu, awalnya hanya sekilas saja memperhatikan pemuda yang berdiri di tengah bis itu.  Untuk kemudian lebih memanjakan mata memandang ke luar; menikmati warna fajar yang menyelimuti pagi di Kota Tasikmalaya.  Tak lama dan tak jauh lagi, bus ini akan mengantarkan saya untuk sampai ke kampung halaman tercinta.  Sebuah kota kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.  Kota Banjar.  Sementara, mentari mulai menggeliat menghangatkan mayapada di bumi Priangan Timur ini.

Tak lama kemudian, bis berhenti.  Pemuda itu bergegas mengangkatkan tumpukan belanjaan seorang ibu yang mau naik ke atas bis.  Gerakannya gesit, meletakkan keranjang belanjaan berisi sayur mayur dan sebuah kardus besar ke balik pintu.  Tidak sampai di situ saja, sang pemuda ini pun menunjukkan sebuah kursi yang kosong di barisan agak depan sembari menuntun sang ibu dari keolengan bis yang mulai kembali berjalan.  Saya perhatikan, ada seutas senyum mengembang di bibirnya.

“Kondektur bis kah, dia?”, tanya saya dalam hati.  Namun saya tak perlu bertanya lisan. Nampak, dia memakai rompi biru dengan bertuliskan di punggungnya sebuah nama koran harian daerah di kota Tasikmalaya ini.  Semakin dikuatkan dengan diambilnya kembali sebuah tumpukan koran terbalut plastik besar kumal, setelah dia membantu sang ibu.  Penjaja koran, itu simpul saya.

Bis sudah kembali berlari.  Namun tak lama, bis pun kembali berhenti.  Kini seorang nenek yang sudah sangat sepuh bersama seorang lelaki muda nampak hendak naik.  Lagi-lagi, sang pemuda ini menyimpan tumpukan korannya dan lalu bersegera ke arah pintu bis untuk, lagi-lagi, membantu sang nenek naik dengan sangat kerepotan.

“Pelan-pelan aja, Nek.  Pelan-pelan.”, katanya lembut sambil membantu sang nenek naik. “Tahan, Pir!  Tahan!”, teriaknya pada sang sopir bis untuk tak bersegera menginjak pedal gasnya.  Dituntunnya sang nenek itu ke sebuah kursi yang masih kosong.  Saya pun, lagi-lagi, memperhatikan.  Ada seanyam senyum mengembang di bibirnya.

Bis kembali berjalan menembus udara pagi yang terasa sangat menyegarkan.  Sang pemuda pun sibuk menghampiri penumpang yang memanggilnya untuk membeli Koran dan majalah dagangannya.  Satu, dua, tiga, empat, sampai delapan orang yang membeli korannya.  Pemuda itu nampak tersenyum.

Saya pun kembali mengalihkan pandangan ke arah luar.  Menikmati hamparan sawah yang nampak hijau luas disiram hangatnya sinar mentari pagi.  Namun tak lama, pemandangan lain yang jauh lebih indah itu pun berulang, membuat saya mengalihkan pandangan.  Ya, tidak salah lagi.  Pemandangan itu dilukis oleh sang pemuda itu.  Kini ia sedang tergopoh-gopoh membantu lelaki paruh baya membereskan tanggungan dagangannya di pojok bis.  Tumpukan pisang yang agaknya akan dijual ke pasar.

Seorang penumpang di pinggir saya pun berkata kepada temannya, “Kasihan ya, orang sebaik itu hanya jadi tukang koran.”, helanya.  “Ah, tapi orang baik emang selalu nasibnya seperti itu.”
“Kalau menurut saya sih, justru kita ini yang mesti dikasihani.”, timpal sang teman.
“Maksudnya?”
“Iya, di tengah banyaknya kesempatan berbuat baik seperti ini, kita malah membiarkannya berlalu.  Diborong semua sama dia.”

Saya termenung dengan apa yang saya dengar itu.  Tak terdengar lagi pembicaraan keduanya.  Tersibukkan dengan fikiran dan rasa saya.  Benar juga apa yang saya dengar itu.  Pemandangan yang dilukis sang pemuda itu sungguh indah, namun akan kah saya hanya jadi penikmatnya?  Tidak.  Saya pun ingin melukis pemandangan indah itu dengan apa yang saya lakukan.  Pemandangan dengan untaian kebaikan. Sebuah pemandangan luar biasa indah, karena ia lah yang akan menemani saya hingga bertemu dengan Rabb saya kelak.  Sebuah pemandangan bertemakan ikhlas, berkuaskan ittiba dalam kanvas dinul islam.  Ya, semoga.  Amin.

Dan mulai pun beranjak

*****

sumber:http://tantodikdik.multiply.com

0 komentar:

Poskan Komentar

di harapkan komentar para pembaca....

syahrial_siregar@yahoo.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

http:syahrialsiregar.blogspot.com/

http://syahrialdankeluarga.blogspot.com/

syahrial

siregar