0wo71p5M3MBGMPs3gA9-3U_3V9k Iman dan Islam : Dulu Mana? | http://syahrial-siregar.blogspot.com/

Sabtu, 24 Maret 2012

Iman dan Islam : Dulu Mana?

Rukun Islam yang lima kita telah tahu. Tiga yang pertama mesti dikerjakan oleh setiap muslim. Sedangkan dua terakhir hanya wajib atas orang-orang Islam yang mampu. Rukun Iman yang enam juga telah sama kita ketahui. Seseorang telah disebut Islam kalau telah melaksanakan rukun-rukunnya berdasar kemampuan diri. Minimal tiga rukun yang pertama. Dikatakan mukmin apabila dia telah mempercayai rukun iman yang enam itu. Dulu manakah, menjadi muslim atau mukmin?
Sementara kita katakan Iman dan Islam bisa dianggap masing-masing berdiri sendiri. Sebab memang di antara keduannya harus dapat diadakan pembedaan meskipun bukan pemisahan. Tuhan pun menyebut “beriman dan beramal saleh”. Amal saleh itulah Islam. Ibnu Taimiyah berpendapat, tiap-tiap orang beriman adalah Islam, tetapi orang Islam belum tentu beriman.
Atas dasar Islam dan Iman berbeda dan pada umunya dikatakan bahwa Islam merupakan bukti adanya Iman, maka terbaliklah pernyataan Ibnu Taimiyah itu. Sebab kalau Islam sebagai bukti adanya Iman maka Iman tentu lebih dulu dari Islam. Dengan demikian mukmin belum pasti muslim. Dan muslim tentulah mukmin. Adapun orang yang sesungguhnya munafik, meskipun ia mau bersyahadat, mengerjakan shalat dan puasa yang lantaran ini orang menyebutnya sebagai bukti adanya iman. Sebab amalnya tidak lahir karena kepercayaan hatinya melainkan hanya sebagai tipu muslihat belaka. Dengan adanya kasus ini maka benarlah separo pernyataan Ibnu Taimiyah, orang Islam belum tentu beriman.
Iman artinya percaya. Kepercayaan ini mencakup tiga tahap. Harus diucapkan secara lisan, diyakini dalam hati dan diteruskan dengan amal perbuatan. Inilah batasan iman menurut jumhur ulama.
Firqah Jahamiyah, cabang dari Muktazilah, berpendapat lain. Pahamnya mengatakan iman cukup dalam hati. Pendapat ini ditentang oleh segenap ulama sunni, termasuk Hamka. Kata Pak Hamka, hatinya percaya. Tetapi takabur, hasad, kedudukan, pangkat dan kemegahan menghalangi mereka buat membuktikan kepercayaan hatinya itu.
Tidak cukuplah apabila kepercayaan dalam hati dan mulut disebut iman karena ini tidak akan membawa keselamatan. Dengan definisi ini maka iman adalah lebih luas dari Islam. Ia meliputinya dan Islam adalah bagiannya. Karena itu keduanya tak dapat dipisahkan. Jadi orang beriman sudah pasti Islam. Sesuai dengan separo perkataan Ibnu Taimiyah.
Namun dilihat dari pernyataan beliau secara keseluruhan ada kesan bahwa Ibnu Taimiyah termasuk dalam barisan Jahamiyah dalam soal ini. Karena pembedaan beliau antara iman dengan Islam bukan dari luas sempitnya. Tegasnya menurut beliau Islam bukan unsur iman. Sehingga beliau katakan orang islam belum tentu beriman. Padahal dengan melihat Islam sebagai unsur ketiga iman (sesuai batasan menurut ulama jumhur) dan timbulnya pun tersebab unsur kedua sudah jelaslah Islam merupakan konsekuensi logis akibat adanya unsur kedua (kepercayaan dalam hati). Ibarat tangga maka ikrar lisan adalah anak tangga terbawah, keyakinan dalam hati anak tangga kedua dan amal (Islam) adalah anak tangga ketiga. Anak tangga ini pun harus dipanjat dari yang paling bawah. Artinya untuk sampai ke tingkat anak tangga ketiga kita harus melalui yang pertama dan kedua. Kesimpulannya orang kalau sudah berada dalam Islam ia adalah mukmin.
Iman tersusun dari tiga bagian yang tali-bertali. Jika salah satunya tidak ada belumlah ia bernama iman. Adapun kalau bagian ketiga sudah ada tandanya bagian-bagian sebelumnya mesti sudah terdapat. Kita lebih cenderung berpendapat iman dan Islam muncul bersama-sama. Karena iman mencakup islam dan adanya Islam adalah tanda adanya iman.
Iman dapat bertambah dan berkurang. Menurut penyelidikan Hamka, iman dan ragu merupakan dua keadaaan yang bergerak bersama-sama meskipun yang satu merupakan kebalikan dari yang lain. Jika iman 25% berarti saat itu syak dan ragu berjumlah 75%. Kalau iman 50% artinya waktu itu ragu 50% pula. Dan apabila iman dalam 100%, ragu sama sekali tidak ada. Teranglah di sini bahwa iman dapat bertambah dan berkurang.
Iman adalah seumpama akar dan sebagiannya yaitu Islam tumbuh menjadi pohon. Agar iman yang lemah menjadi kuat dan meningkat tumbuh dengan baik maka ihsan adalah penyiramnya. Sedangkan penyuburnya ada bermacam-macam. Seperti banyak membaca Alquran, membaca hadis-hadis yang bertalian dengan dalam agama dan tiangnya sendiri ialah pendidikan semenjak kecil. Salah satu hadis nabi kurang lebih mengatakan tanda sempurnanya iman seseorang ialah apabila ia telah bisa mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri.
Iman oleh Tuhan diuji. Kaya adalah ujian iman. Mampukah kita menguasai kekayaan untuk mencapai kemaslahatan diri dan umum? Sebab sedikit orang kaya yang meiliki harta, kebanyakan harta yang memiliki mereka. Miskin adalah juga cobaan iman. Sabarkah kita menghadapinya? Baru terlihat ada tidaknya atau kuat lemahnya iman seseorang ialah ketika ia berhadapan dengan hal-hal yang membuatnya sulit. Tabahkah, atau tidak?
Kita sendiri dapat mengecek iman kita, masih adakah atau telah pergi. Adakah masih kuat atau telah rapuh? Gementar dan ingatan terpusat kepada Allah hati orang-orang beriman ketika ayat-ayat Allah dibacakan.

sumber: http://www.akhmadtefur.com/

0 komentar:

Posting Komentar

di harapkan komentar para pembaca....

syahrial_siregar@yahoo.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

http:syahrialsiregar.blogspot.com/

http://syahrialdankeluarga.blogspot.com/

syahrial

siregar