0wo71p5M3MBGMPs3gA9-3U_3V9k Ke Mana Kebahagiaan Harus Diburu? (2) | http://syahrial-siregar.blogspot.com/

Rabu, 02 Mei 2012

Ke Mana Kebahagiaan Harus Diburu? (2)

 
Oleh: Shalih Hasyim
ADA pula yang mencari kebahagiaan dengan pendekatan seni. Bahkan seni yang mengandung unsur pornografi, cabul dan amoral. Dengan seni ia memancing birahi, mempermainkan perasaan, menggelisahkan hati, menyemai asmara di hati orang lain, seolah-olah dengan begitu kebahagiaan akan sampai pada hati dan jiwanya. Padahal, pada akhirnya hatinyalah yang buta. Semakin tenggelam dalam syahwat, seperti minum air laut. Semakin banyak yang diteguk bertambah haus.
Dosa panca indra yang dilakukan, beranak pinak. Mengajak kepada kejahatan berikutnya. Ia kehilangan sifat malu. Ia semakin jauh dari hidayah Allah Subhanahu Wata’ala. Kebahagiaan yang ada pada dirinya dicabut. Dan barangsiapa berpaling dariNYA, baginya penghidupan yang sempit, dan akan dihimpunkannya pada hari kiamat dalam "keadaan buta”.
Berkatalah Allah Subhanahu Wata’ala;
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى

“Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikian¬lah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS: Thaha [20]: 124-126)
Di manakah kebahagiaan itu ditemukan? Apakah kebahagiaan itu berupa benda yang bisa dicari di tempat tertentu? Siapakah yang membawa bahagia itu dan memasukkannya di dalam hati manusia?
Nabi Yunus ibn Matta menemukan kebahagiaan di dalam kegelapan malam, kegelapan di dasar laut, dan kegelapan di dalam perut ikan. Ketika terputus semua bentuk ketergantungan, kecuali ketergantungan kepada-Nya. Ia keluar dari perut ikan dan mengucapkan doa dengan suara yang lembut dan sedih.
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap (di malam hari, di dasar laut, di dalam perut ikan), “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 87)
Setelah mengucapkan itu, ia pun merasakan kebahagiaan sejati.
Kebahagiaan para shiddiqun dan Nabi
Sementara Nabi Musa as, mendapatkan kebahagiaan ketika berada di tengah gelombang ombak lautan. Ia meminta penderitaan itu demi menemukan Allah Yang Maha Kuasa.
فَلَمَّا تَرَاءى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku be¬sertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. asy-Syu’ara [26]: 61-62)
Sementara Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menemukan kebahagiaan ketika bersembunyi di goa Tsur dari kejaran orang-orang kafir. Beliau menyaksikan kematian di depan matanya, lalu menoleh kepada Abu Bakar dan mengucapkan kata berikut seraya menenangkan.
إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur’an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. dan kalimat Allah itulah yang Tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 40)
Begitulah cara Allah. Bahkan Nabi Yusuf menemukan kebahagiaan ketika ia dipenjara selama tujuh tahun.
Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taimiyah menemukan kebahagiaan di balik terali besi. Sekalipun fisiknya disiksa, tetapi jiwanya bebas melayang. Ia menemukan kebahagiaan yang hakiki, ketika dalam suasana berpihak kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Mengharumkan nama-Nya, menjunjung tinggi kalimat-Nya, membela kebenaran dari-Nya se¬kalipun rasanya pahit.
Sementara itu Ibrahim ibn Adham menemukan kebahagiaan ketika sedang tertidur di ujung jalan kota Baghdad. Ia tidak menemukan sepotong roti pun yang dapat dikonsumsi. Namun demikian, ia berkata, Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia. Aku dalam sebuah kehidupan yang lezat, yang sekiranya para raja itu tahu, tentu mereka akan mengambilnya dengan pedang-pedang.
Itulah sekilas kondisi pendahulu kita yang berbahagia. Mereka para Nabi, Shiddiqun, Syuhada dan Shalihun. Mereka telah menemukan jalan yang lurus. Kebahagiaan itu mustahil didapatkan kecuali dengan iman dan amal shalih. Tanpa keduanya kebahagia¬an yang diburu semakin menjauh.
Ketika Harun ar-Rasyid memangku kekhalifahan yang diwarisinya dari bapaknya, ia mengalokasikan harta yang sangat banyak untuk membangun sebuah istana di tepi sungai Dazlah. Sungai itu dialirkan dari sebelah utara istana dan keluar dari sebelah selatan. Ia membangun taman yang luar biasa dan menonjok ke sungai. Ia lalu membuat tirai-tirai dan tempat berkumpul orang-orang.
Setelah pembangunan selesai, orang-orang berkerumun mendatanginya untuk memberi ucapan selamat kepadanya. Salah seorang di antara yang datang adalah Abu al-‘Athiyah. Ia berdiri di hadapan Harun ar-Rasyid dan berkata. Perkataan kali ketiga yang berbunyi: 
Apabila jiwa telah berkumur
Dengan napas sekaratul maut (mabuk kematian) di dalam dada
Di sana Anda mengetahui dengan haqqul yaqin
Tidaklah Anda kecuali dalam (keadaan) tertipu

Maka, Harun menangis sampai terjatuh ke tanah. Ia kemudian memerintahkan tirai-tirai itu dihancurkan, pintu-pintu digembok, dan ia kembali menempati istana yang lama. Tidak mencapai sebulan kemudian, ia meninggal dunia.
Abdul Malik ibn Marwan yang menguasai dunia Islam, dari timur dan barat. Namun, ketika sakarat, ia turun dari ranjang kerajaannya yang telah dikuasai orang lain. Setelah lengser dari kekuasaannya ia mendengar tukang cuci di samping istana tampaknya diselimuti kebahagiaan. Padahal, ia tidak memiliki kekuasaan, kesibukan dan permasalahan. Ia bernyanyi sambil mencuci pakaian. Abdul Malik berkata, “Sekiranya aku tukang cuci, dan tidak mengenal kekhalifahan, seandainya aku tidak pernah men¬jabat sebagai raja.” Ia kemudian meninggal.
Hanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam contoh afdhal (paling utama) dari Allah Subhanahu Wata’ala. Siapapun, sekalipun dengan kerja keras tidak bisa mencapai kedudukan mulia ini (maqaman mahmudah). Dengan al-Quran, Muhammad menjadikan akhlak, perilaku, spiritual, bisnis, cara perang,  cara menjadi kepala keluarga, dan memimpin masyarakat.
Itulah sebabnya beliau mengadakan perenungan yang luar biasa di gua Hira’ selama tiga tahun berturut-turut. Menggali potensi dirinya untuk berhubungan dengan realitas metafisik. Setelah ia menyadari bahwa dunia dan seisinya, termasuk dirinya hanyalah sebuah titik di alam semesta ini. Dari sinilah terjadi perubahan spektakuler, berubah secara total orientasi kehidupannya, cara memandang dirinya, lingkungan sosialnya, misi kehadirannya di muka bumi ini, dan cara memandang Rabb-nya.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat [41]: 53)
Karena itu, wahai manusia, barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan hakiki, maka carilah di rumah-rumah Allah Subhanahu Wata’ala, majelis shalat jamaah, majelis ilmu, majelis zikir,  dan yang terpenting mencontoh (ittiba’ dan iqtida serta taassi) manusia yang paling bahagia di dunia dan akhirat, yani Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam.*
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Timur

sumber:http://www.hidayatullah.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

di harapkan komentar para pembaca....

syahrial_siregar@yahoo.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

http:syahrialsiregar.blogspot.com/

http://syahrialdankeluarga.blogspot.com/

syahrial

siregar