0wo71p5M3MBGMPs3gA9-3U_3V9k Ke Mana Kebahagiaan Harus Diburu? (1) | http://syahrial-siregar.blogspot.com/

Rabu, 02 Mei 2012

Ke Mana Kebahagiaan Harus Diburu? (1)

 

 

Oleh: Shalih Hasyim

SETIAP
manusia dalam profesi apapun, status sosial bagaimanapun berusaha dengan seluruh kemampuan, potensi yang dimilikinya untuk memburu kebahagiaan. Mencari bahagia adalah fitrah manusia. Tidak peduli dia adalah; penjahat, koruptor, tiran, pelacur, bromocora, wts, semua tidak ingin keturunannya mewarisi perbuatan buruknya. Hal ini membuktikan bahwa fitrah manusia adalah lurus, suci. Rindu kepada kebenaran (kejujuran) dan anti kebatilan (kebohongan). Tidak ingin sengsara di dunia dan celaka di akhirat.

Orang mengatakan bahwa bahagia itu dirasakan ketika kebutuhan lahir dan batin terpenuhi. Maka, manusia mendata deretan kebutuhan tersebut dan bekerja keras untuk memenuhinya. Di antara kebutuhan jasmani, makan dengan kenyang, hidup berkecukupan, tidur nyenyak, pakaian terpenuhi, tempat tinggal layak, naluri biologis tersalurkan pada jalur yang benar, kesehatan dan lain-lain. Sedangkan kebutuhan rohani, kasih sayang, rasa aman, harga diri, keberhasilan (karir), kebebasan (tidak terkekang), ada ruang potensialisasi dan aktualisasi diri, terpuaskan rasa ingin tahunya dan lain-lain.
Hanya yang menjadi pertanyaan, pernahkah dalam pasang surut kehidupan manusia baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat, tercipta situasi dan kondisi di mana dua kebutuhan pokok tersebut terpenuhi secara berkesinambungan dan permanen?
Tentu, tidak mungkin terjadi. Sebab karakteristik kehidupan dunia sangat fluktuatif. Selalu mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis. Sesungguhnya orang yang mendambakan kebahagiaan bukan disebabkan oleh kondisi eksternal dirinya, tetapi justru terciptanya kondisi internal dalam dirinya (rohaninya) yang memberikan gambaran mental positif, motivasi, spirit, gelora, bahagia dalam kondisi bagaimanapun. Dua kondisi yang kontradiktif, sedih-gembira, kegagalan-kesuksesan, suka-duka, sehat-sakit, bisa dinikmati dan dimaknai sebagai bagian dari romantika kehidupan.
Jadi, bahagia bukan berbentuk benda yang dicari di mall, tempat rekreasi, swalayan. Tetapi, bahagia itu hanya diberikan oleh Allah subhanahu wata’ ala. kepada hamba yang dikasihi-Nya. Hamba yang mendatangi-Nya dengan hati yang sehat (qalbun salim), steril dari penyakit yang menjadi embrio pelanggaran manusia di pentas sejarah, yakni sombong, dengki, dendam dan serakah.
Suatu yang ironis, kebanyakan manusia mencari kebahagiaan dengan cara-cara yang menyimpang. Sehingga, semakin lama ia menempuh perjalanan untuk memperolehnya, bahagia itu semakin menjauh. Mereka mengira nan jauh di sana tampak berupa air dilihat lewat jendela kendaraan yang dinaikinya, setelah didatanginya hanya berupa fatamorgana belaka.
Fir’aun dan kelompoknya mencari kebahagiaan melalui kerajaan. Namun, kerajaan yang dibangunnya selama berabad-abad tidak ditopang oleh iman, bukan pula kekuasaan yang dipagari oleh ketaatan kepada-Nya. Lihatlah Fir’aun ketika berpidato di hadapan pengikutnya!
“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukan¬kah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya).” (QS. az-Zuhruf [43]: 51)
Fir’aun lupa bahwa yang memiliki kerajaannya itu sesungguhnya hanya Allah subhanahu wata’ ala, yang memberikan Mesir adalah Allah subhanahu wata’ ala, yang mengumpulkan manusia-manusia Bani Israil itu sehingga siap dipekerjakan dengan cara paksa untuk membangun piramida adalah Allah subhanahu wata’ ala., yang memberinya makan dan minum adalah Allah subhanahu wata’ ala. Namun, yang menghidupkan dan mematikannya adalah Allah subhanahu wata’ ala, ia dengan kesombongannya tidak mengakui prinsip ini.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحاً لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain Aku, maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat (mem¬buat batu bata) kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS. al-Qashash [28]: 38)
Maka balasan dari ketakaburan, pembangkangannya adalah tidak saja ia tidak memperoleh kebahagiaan yang dicari dengan susah payah, melainkan ia pun diliputi penderitaan, kehancuran dan laknat dari Allah subhanahu wata’ ala. Semua yang dimilikinya tidak men¬datangkan kebaikan untuk dirinya, keluarganya, bangsanya. Bahkan semua prestasi yang diukirnya hanya menciptakan lubang ke-hancurannya di kemudian hari.
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang (sebelum hari berbangkit), dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. al-Mu’min [40]: 46)
Qarun juga termasuk orang yang salah jalan dalam mencari kebahagiaan. Allah subhanahu wata’ ala menganugerahkan bergudang-gudang harta yang tidak ia raih dengan kerja kerasnya, kecerdasannya, keringat¬nya, dan tidak pula dengan penguasaannya dalam menerapkan prinsip-prinsip ekonomi. Ia kira hanya dirinya sendiri yang me¬rasakan kebahagiaan. Maka, ia mengingkari atas nikmat dan karunia-Nya, dengan enggan untuk mengeluarkan hak Allah subhanahu wata’ ala. di dalam kekayaannya. Bahkan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Maka Allah subhanahu wata’ ala tidak menghilangkan keburukan dirinya. Bahkan mem¬berikan balasan yang menyakitkan. Akibat perbuatannya, Allah subhanahu wata’ ala. membenamkannya dan seluruh kekayaannya di perut bumi.
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya ter¬hadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. al-Qashash [28]: 81)
Al-Walid ibn Mughirah (tokoh Jahiliyah klasik) diberikan sepuluh orang anak yang selalu dibawanya dalam setiap pesta. Lima di sebelah kanan, sedangkan yang lima lainnya di sebelah kiri. Namun ia lalai, ia tertipu, ia lupa bahwa Allah subhanahu wata’ ala. menciptakannya seorang diri. Akibat kesombongannya, Allah subhanahu wata’ ala. mengambil anak-anaknya, sehingga menjadi tentara-tentara yang memerangi Allah subhanahu wata’ ala.
“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah men¬ciptakan¬nya sendirian (al-Walid ibn al-Mughirah). Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia. Dan Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat kami (al-Qur’an).” (QS. al-Muddatsir [74]: 11-16)
Bahkan tak sedikit orang memburu kebahagiaan dengan ketenaran (popularitas), ia menghabiskan waktunya untuk mencari dan mencuri perhatian orang. Akhirnya Allah subhanahu wata’ ala. mencabut kebahagiaan yang dicarinya sampai ke akar-akarnya, sehingga menggagalkan segala usaha yang dilakukan.
أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَا
“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; ada¬pun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. ar-Ra’du [13]: 17)*

sumber:http://www.hidayatullah.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

di harapkan komentar para pembaca....

syahrial_siregar@yahoo.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

http:syahrialsiregar.blogspot.com/

http://syahrialdankeluarga.blogspot.com/

syahrial

siregar