0wo71p5M3MBGMPs3gA9-3U_3V9k Meneladani Semangat Kartini | http://syahrial-siregar.blogspot.com/

Sabtu, 31 Maret 2012

Meneladani Semangat Kartini


Meneladani Semangat Kartini

Sidang Jumat yang berbahagia...
Sebentar lagi kita semua bangsa Indonesia memperingati hari besar lahirnya seorang tokoh pejuang Islam RA Kartini. Sementara ini, kita kenal icon RA Kartini hanya sebagai tokoh pengangkat harkat martabat kaum wanita. Bahkan, tidak banyak yang salah mengartikannya sebagai emansipasi wanita tanpa batas!
Sidang Jumat yang berbahagia... Ada sisi lain yang jauh lebih menarik dari perjalanan seorang Kartini sebagai pejuang kaum wanita, yaitu perjalanan hidupnya yang membuahkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Pada mulanya, Kartini sangat mengagumi budaya kebebasan bangsa barat dibanding adat isti adat ningratnya yang begitu sangat rumit dan menekan (Surat Kartini 25 Mei 1899 kepada Stella , wanita yg aktif pada pergerakan feminis di negeri Belanda).
Kartini memang beragama Islam, tapi sama sekali tidak memahami apa itu Islam.
Maklumlah, di zaman itu pemerintah kolonial Belanda melarang siapapun untuk menterjemahkan Al Quran. Sehingga banyak orang yang membaca Al Quran, bahkan sampai hafal tapi sama sekali tidak dapat memahami isinya. Tradisi ini sampai sekarang masih ada di sebagian masyarakat kita. Sampai suatu ketika…Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak dan bertemu dengan Kyai Muhammad Sholeh bin Umar, dan belajar makna Surat Al Fatihah. Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia mengerti makna dan arti surat Al Fatihah, yang isinya begitu indah dan menggetarkan hati.
Kemudian setelah berdialog dengan Sang Kyai, akhirnya Kyai Sholeh menterjemahkan Al Qur'an dalam bahasa Jawa, walaupun sebenarnya tindakan itu dilarang oleh pemerintah Belanda.
Dalam semangatnya Kartini mempelajari makna Al Quran, Kartini menemukan sesuatu yang lebih dari liberalisme barat yang semula dia kagumi. Bahkan, Kartini bertekad untuk memperkenalkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, agama yang patut disukai, seperti dalam suratnya kepada Van Kol th 1902.
Inilah hebatnya Al Quran. Petunjuk hidup yang tak tertandingi manfaatnya. Petunjuk bagi setiap manusia, termasuk bagi seorang Kartini yang telah membawanya dari kegelapan menuju cahaya (minadzulumaati ila nuur), yang mengilhami munculnya buku “Habis gelap terbitlah terang”.
Sidang Jumat yang berbahagia…..
Alquran jika dibaca dan dipelajari isinya dengan sungguh-sungguh, tentu akan membawa dampak perbaikan yang luar biasa!
Alhamdulillah, kita tidak hidup di zaman kolonial Belanda yang pada masa itu para ulama dilarang untuk mengajarkan makna Quran. Al Quran tidak boleh diterjemahkan.
Alhamdulillah, kita hidup di “zaman mudah” untuk mempelajari makna Al Quran. Pergunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya!
Mari kita tingkatkan kualitas cinta Al Quran dengan tidak hanya sekedar membacanya. Mari kita teladani semangat Kartini dalam mempelajari Al Quran!
Baarakallaahu lii walakum,
No.20/IV/10
NASKAH KHUTBAH JUMAT APRIL 2009
ditulis dan dikhutbahkan oleh Akhmad Tefur di Masjid Al I'tishom, Budi Agung - Bogor.
Sumber: dari berbagai artikel Kartini di www.id.wikipedia.org, dll.
***


0 komentar:

Posting Komentar

di harapkan komentar para pembaca....

syahrial_siregar@yahoo.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

http:syahrialsiregar.blogspot.com/

http://syahrialdankeluarga.blogspot.com/

syahrial

siregar